Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Skandal Pembungkaman Aktivis: Saat Ketua LSM Lebih Memilih Lindungi Mafia Ketimbang Suarakan Fakta

Rabu, 25 Maret 2026 | Maret 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-25T12:37:29Z


PALEMBANG – Upaya membongkar gurita mafia minyak di Musi Banyuasin (Muba) justru berujung pada tindakan represif digital. Fitro, seorang aktivis yang vokal menyuarakan perusakan hutan dan praktik illegal drilling, didepak secara sepihak dari grup WhatsApp diskusi publik oleh Arianto, Ketua LSM.


Tindakan "kick" atau pengeluaran anggota ini terjadi sesaat setelah Fitro gencar membagikan tautan berita yang menyoroti keterlibatan korporasi dan oknum ormas dalam pusaran bisnis minyak ilegal di Muba. Langkah Arianto ini dinilai publik bukan sekadar urusan administrasi grup, melainkan sinyal kuat adanya upaya pembungkaman suara kritis demi menjaga kenyamanan pihak-pihak yang sedang diviralkan.


Fitro menyayangkan sikap kekanak-kanakan dan anti-kritik yang ditunjukkan oleh seorang pimpinan LSM. Menurutnya, sebuah lembaga swadaya masyarakat seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengawal isu lingkungan, bukan malah menjadi "satpam" bagi kepentingan gelap.


“Saya hanya membagikan fakta lapangan tentang kehancuran hutan di Muba akibat mafia minyak. Jika kemudian saya dikeluarkan oleh oknum Ketua LSM, publik bisa menilai sendiri: Di pihak mana Arianto berdiri? Apakah dia pembela rakyat, atau justru kaki tangan dari 'jagoan' yang sedang kami preteli boroknya?” tegas Fitro.


Menanggapi insiden ini, rekan sejawat dari aktivis Sumsel menilai tindakan tersebut sebagai preseden buruk bagi demokrasi dan keterbukaan informasi di Sumatera Selatan. Diduga kuat, Arianto merasa terganggu karena berita yang dibagikan Fitro menyentuh figur atau korporasi yang memiliki kedekatan khusus dengan dirinya.


“Sangat ironis. Nama lembaganya, tapi nyalinya ciut saat ada anggota grup yang menyuarakan kebenaran. Jangan sampai LSM justru beralih fungsi menjadi tim sorak atau humas bagi para perusak lingkungan di Muba,” ungkap salah satu kolega aktivis.


Publik kini mulai mempertanyakan netralitas LSM dalam menyikapi isu illegal drilling di Tungkal Jaya. Tindakan mengeluarkan Fitro memperkuat spekulasi bahwa ada aliansi bawah tanah antara oknum aktivis dengan mafia minyak yang sedang disorot.


Jika seorang ketua LSM sudah mulai alergi dengan berita kritis, maka patut dicurigai bahwa ada aliran kepentingan yang sedang dijaga agar tidak terusik oleh sorotan media.


Meski didepak dari ruang diskusi digital, Fitro menegaskan bahwa langkahnya untuk membongkar skandal PT Agrinas dan mafia minyak di Muba tidak akan surut.


“Silakan 'kick' saya dari grup WA, tapi kalian tidak bisa men-delete fakta bahwa hutan Muba sedang dirampok. Semakin kalian bungkam, semakin keras kami bersuara. Kebenaran tidak butuh izin admin grup untuk tetap tegak!” tutupnya.

Bersambung..... 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update